PEMBUATAN BRIKET DARI SERBUK KAYU GERGAJI DAN OLI BEKAS

PEMBUATAN BRIKET DARI SERBUK KAYU GERGAJI DAN OLI BEKAS

Kebijakan pemerintah mengkonversi minyak tanah ke elpiji ditahun 2007 terbilang cukup sukses, saat ini wacana pemerintah untuk mengganti elpiji ke gas bumi mulai di kenalkan. Namun, bahan bakar antara yang sudah ada sejak dulu tidak sepopuler elpiji dan gas bumi, padahal dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif. Salah satu bahan bakar alternatif adalah briket, dapat disediakan atau dibuat dengan mudah dengan memanfaatkan limbah industri pengolahan kayu berupa serbuk kayu gergaji dan oli bekas. Masyarakat dapat melakukan proses pembuatan briket jenis ini sehingga selain mendapatkan bahan bakar juga bisa dijadikan bahan komoditas dan meningkatkan pendapatan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat. Pembuatan briket dengan metode pirolisis (karbonitasi) yaitu: serbuk kayu gergaji kering dicampur dengan oli bekas kemudian ditambahkan tanah liat. Variabel proses adalah komposisi campuran dan temperatur pengeringan. Spesifikasi briket yang dihasilkan melalui proses ini memiliki nilai kalor 11.064,26 Btu lb-1, kada abu 10,45% dan kadar air 6,18% dengan komposisi bahan serbuk arang 60%, oli bekas 30% dan tanah liat 10%, sedangkan temperature pengeringan optimum 80oC dalam waktu 1 jam.

 

Serbuk kayu gergaji.
Dalam industri penggergajian kayu, serbuk gergaji merupakan limbah belum dimanfaatkan secara maksimal. Rata-rata limbah yang dihasilkan dari industri penggergajian kayu adalah 49,15% dengan rincian: serbuk kayu gergaji 8,46%; sadetan 24,41% dan potongan-potongan kayu 16,28%. Ukuran partikel serbuk kayu gergaji berkisar 8 – 40 mesh (Departemen Kehutanan, 1992) dan kandungan unsur-unsur kimia pada umumnya sama dengan kayu asal serbuk tersebut, dimana karbon merupakan unsur yang dominan.

 

Komposisi unsur-unsur pada kayu

Unsur % berat kering
Karbon
Hidrogen
Oksigen
Nitrogen
Abu
49
6
44
Sedikit
0,1

Jika dibandingkan dengan bahan bakar lainnya kayu memiliki nilai kalor yang relatif rendah yaitu kayu bakar (4.000 k.cal/kg), arang (8.000 k.cal/kg), minyak tanah (11.000 k.cal/kg), gas elpiji /LPG (11.900 k.cal/kg).

 

Oli (minyak pelumas)

Oli atau minyak pelumas adalah cairan kental yang berfungsi mencegah gesekan dan
keausan permukaan di antara dua benda padat (pada umunya logam) yang saling bersentuhan dan berinteraksi dalam pergerakan seperti antar komponen mesin, agar mesin berjalan mulus dan bebas gangguan sekaligus sebagai pendingin dan penyekat. Molekul minyak pelumas termasuk dalam golongan hidrokarbon alifatik dengan rantai karbon berada di antara C16 sampai C20 berwujud cair kental atau setengah padat (termasuk gemuk dan Vaseline). Sumber perolehan minyak pelumas adalah minyak mentah, merupakan campuran dari berbagai macam senyawa hidrokarbon dari yang ringan sampai berat. Proses distilasi minyak mentah adalah pemisahan komonen-komponen berdasarkan titik didih dalam derajat Celcius.

 

Titik didih dan hasil distilasi minyak mentah

Titik didih, oC Jenis minyak Kegunaan
40 – 70 Minyak ester Pelarut
60 – 100 Minyak ringan Bahan bakar mobil
100 – 150 Minyak berat Bahan bakar mobil
120 – 150 Minyak tanah ringan Pelarut dan bahan bakar untuk
rumah tangga
150 – 300 Kerosene Bahan bakar mesin jet
250 – 350 minyak gas Minyak diesel/pemanas
>300 Minyak pelumas Minyak mesin
Sisa Tar, aspal, bahan baker residu

Oli sesuai dengan fungsinya mempunyai beberapa sifat antara lain: lubricant, coolant
(pendingin), sealant (pelapis/film). Selain itu oli mesin juga berfungsi sebagai perapat untuk mencegah kemungkinan kehilangan tenaga. Sebab jika celah antara piston dan dinding silinder semakin membesar maka akan terjadi kebocoran kompresi.

 

Oli bekas

Oli bekas merupakan limbah dari berbagai aktivitas seperti industri, pertambangan, dan
usaha perbengkelan auto motif. Ditinjau dari komposisi partikel makro hampir tidak berbeda dengan oli baru ada beberapa partikel tambahan karena pada oli bekas terkandung sejumlah sisa hasil pembakaran yang bersifat asam dan korosif, deposit, dan logam berat yang bersifat karsinogenik.
Kontaminasi terjadi dengan adanya benda-benda asing atau partikel pencemar dalam oli tergantung dari penggunaan sebelumnya seperti: keausan elemen (tembaga, besi, chrominium, aluminium, timah, molybdenum, silikon, nikel atau magnesium); kotoran (masuk kedalam oli melalui embusan udara lewat sela-sela ring dan melalui sela lapisan oli tipis kemudian merambat menuruni dinding selinder); jelaga ( timbul dari bahan bakar yang tidak habis); bahan bakar; air (produk samping pembakaran); ethylene glycol; belelang/asam. Oli bekas termasuk dalam limbah B3 yang mudah terbakar sehingga bila tidak ditangani secara tepat akan membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan serta menambah pencemaran.

 

Pembuatan briket kayu
Briket dari kayu dapat dibuat dengan mencampurkan serbuk kayu dengan bahan-bahan lain seperti serbuk arang dan oli atau oli bekas. Oli bekas berfungsi sebagai perekat dan tidak mengurangi nilai kalor kayu karena oli juga memiliki nilai kalor yang relative lebih tinggi dari nilai kalor kayu. Proses pembuatan briket ini melalui tahapan sebagai berikut: serbuk kayu dikeringkan untuk mengurangi kadar air kemudian dicampur dengan oli bekas dan diaduk sampai bercampur merata (homogen). Campuran kemudian dicetak dengan menggunakan mesin pres bertekanan dan hasil cetakan dikeringkan pada suhu tertentu, maka diperolehlah briket kayu kering yang siap pakai. Kualitas briket kayu yang terbuat dari serbuk kayu dan oli bekas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: kepadatan, lama pengeringan, komposisi campuran antara serbuk kayu dengan oli bekas,
temperatur pengeringan. Tingkat kepadatan ditentukan oleh tingginya tekanan pada saat proses pencetakan dan berpengaruh juga terhadap densitasnya. Makin besar nilai densitas, makin besar tingkat kepadatannya artinya setiap dalam satu satuan volume suatu bahan yang memiliki nilai densitas lebih tinggi maka akan memiliki jumlah partikel bahan yang lebih banyak dibandingkan dengan bahan yang memiliki nilai densitas yang lebih rendah. Dengan demikian makin tinggi nilai densitas briket makin tinggi nilai kalornya. Sedangkan pengeringan betujuan mengeluarkan inert berupa gas atau zat-zat yang memimiki tingkat volatilitas tinggi. Keberadaan zat-zat tersebut di dalam badan briket akan menyepap kalor dari briket apabila dibakar, hal ini akan mengurangi nilai kalor yang ke luar dari hasil pembakaran briket. Pengeringan pada temperatur tertentu dan lama akan berpengaruh terhadap nilai kalor dari briket hal dikarenakan makin lama waktu pengeringan maka zat-zat inert makin banyak lepas dari briket. Faktor lain adalah komposisi serbuk kayu dan oli bekas. Kayu memiliki nilai kalor relatif lebih rendah dibandingkan oli namun karena bentuk briket padat, maka tidak mungkin bisa terbentuk briket dengan komposisi oli sebanyak-banyaknya. Dalam upaya pembentukan briket tetap diupayakan dalam bentuk padatan namun memiliki nilai kalor yang lebih tinggi dari pada nilai kalor kayu. Dengan demikian komposisi briket yaitu serbuk kayu dan oli bekas memiliki komposisi yang memberikan nilai kalor terbaik. Pengeringan pada temperaptur kamar sangat sedikit zat inert yang dapat dibebaskan maka pengeringan dilakukan pada temperatur di atas temperatur kamar tetapi dijaga di bawah titik nyala. Dengan demikian, maka dari uraian di atas dapat diduga bahwa hubungan antara komoposisi bahan dan temperatur pengeringan terhadap kualitas briket dapat dijelaskan “makin tinggi komposisi oli bekas terhadap serbuk kayu bergaji, maka kualitas briket makin baik, begitu pula makin tinggi temperature pengeringan maka makin baik kualitas briket”

 

Sumber: internet

di teliti oleh: Suratmin Utomo
Jurusan Teknik Kimia Universitas Muhammadiyah Jakarta
utomosuratmin@yahoo.co.id

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *